Usia Bukan Alasan Untuk Berhenti Belajar
Seorang pria tua duduk di baris terdepan. Rambut dan janggutnya sudah sangat sempurna beruban. Dengan peci putih dan rompi biru yang menutupi baju koko, ia duduk bersila menatap menyimak seksama. Matanya tertuju ke layar LCD di depan sebelah kanan. Sesekali perhatiannya tertoleh ke kiri kepada pemateri. Ia nampak mencoretkan sejumlah keterangan di kertas catatan.
Namanya Mukhlisun. Pak Mukhlis, aku memanggilnya. Berasal dari Buton, ia terbang ke Purwakarta mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan Khilafatul Muslimin, sebuah ormas Islam. Ia merupakan peserta pelatihan paling tua diantara lebih dari dua puluh orang yang datang dari penjuru nusantara.
Saat itu, ia mengaku telah berumur 58 tahun. Sebelum pensiun, ia pengajar bahasa Inggris di sebuah SMP swasta di kawasan Cijantung, Jakarta. Setelah purna tugas, ia kembali ke kampung halaman, membaktikan diri dalam dakwah di pulau penghasil aspal dan sekitar.
Di sela istirahat kegiatan pelatihan, ia banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Pengalaman memulai dakwah di lingkungan kerja, pengalaman menanamkan iman kepada murid-muridnya, pengalaman dikejar aparat polisi, dan segudang pengalaman lain yang ia ceritakan di serambi masjid Adh Dhuha, Purwakarta.
Saat menjadi guru SMP di sebuah Yayasan di Jakarta, ia sering ditegur pimpinan sekolah. Bukan karena suka keluyuran atau melanggar peraturan. Tetapi karena ia sering menyisipkan petuah-petuah agama di sela mengajar. “Kamu ini Sarjana Bahasa Inggris, guru bahasa Inggris, kenapa kamu ajarkan agama kepada murid-murid?” kata pak Mukhlis mengulang kata-kata pimpinan sekolah tempatnya bekerja dahulu.
“Saya pengajar pak. Tapi saya takut apa yang saya ajarkan justru akan membuat mereka jauh dari Allah. Saya memiliki tanggungjawab untuk mengajarkan mereka agama, sebuah ilmu dasar kehidupan,” katanya mengulang jawabannya saat itu kepada pimpinannya.
Berkat aktivitas dakwahnya di sekolah, pria lulusan Pendidikan Bahasa Inggris IAIN Syarif Hidayatullah itu dipercayai mengelola mushola. Kesempatan yang tak ia sia-siakan. Ia kembangkan kegiatan kerohanian Islam di mushola itu. Karena para ustadz dan mubaligh yang diundangnya lintas ormas dan harakah, jamaah musholanya justru ramai. Dari ketekunan mengelola mushola itu pula, pak Mukhlis mampu bertamu ke tanah suci. Ia di-haji-kan Yayasan tempatnya bekerja.”Ibadah haji adalah keinginan besar yang saat itu saya pikir mustahil bisa saya tunaikan,” ucapnya mengenang.
Pengalaman getir saat berdakwah juga pernah ia alami saat kembali ke Buton, kampung halamannya. Ia mengaku pernah dikejar-kejar Densus 88 dan aparat intelijen. Gara-garanya diduga karena pak Mukhlis dianggap menyebarkan ajaran terorisme. Sebuah tuduhan yang tentu saja ditampiknya. Tuduhan itu berawal saat dakwah pak Mukhlis tentang pentingnya Khilafah di Buton meluas di tengah masyarakat. Info ini masuk dalam radar salah seorang pejabat pimpinan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) asal Buton. Diturunkanlah sejumlah intelijen untuk mengumpulkan informasi. Keluarga dan masyarakat Buton banyak ditanyai seputar keberadaan pak Mukhlis yang sering melakukan perjalanan. Rumahnya di Buton juga beberapa kali disambangi aparat intelijen. Namun sampai saat ini, ia tidak pernah ditangkap.
Pak Mukhlis mengaku memang sering melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lain. Perjalanannya itu dalam rangka dakwah dan mencari ilmu. Dalam berdakwah ia sering mengunjungi pulau-pulau di sekitar Maluku dan Sulawesi. Sementara perjalanannya ke Jakarta dan wilayah Indonesia barat, biasanya dalam rangka mencari ilmu. Seluruh biaya dakwahnya ditanggung oleh Baitul Mal Khilafatul Muslimin. Dalam usia yang sudah sesepuh itu, aku mendapati keteladanan dari pak Mukhlis yang masih gigih mencari ilmu.
Kepadaku, ia mengaku senang ada anak muda yang memiliki ilmu dan pengalaman. Sebuah pujian yang berlebihan, bagiku. Ia mengaku sangat senang dengan pengetahuan-pengetahuan yang saya sampaikan. Sebaliknya, aku justru kagum kepada ghirah-nya. Ghirah seorang bapak tua yang biasanya tinggal menikmati kehangatan bersama keluarga namun masih semangat mencari ilmu. “Ilmu ini sangat bermanfaat untuk perjuangan dakwah saya ke depan,” katanya.
Selama setengah hari, aku memang diminta menjadi pemateri. Pemateri untuk menyampaikan sekilas pengetahun tentang jurnalistik. Sebuah pengetahuan mengenai dasar-dasar menulis jurnalistik di media. Pengetahuan yang kuperoleh sejak kuliah dan kupraktikkan hingga sekarang di sebuah media yang kami bangun bersama kawan-kawan. Dalam setahun terakhir, aku memang beberapa kali menjadi pemateri pelatihan jurnalistik di beberapa kota. Solo, Jakarta, Bandung, dan Bogor diantaranya. Impianku, aku bisa melakukannya di setiap kota di Indonesia. Setidaknya di setiap propinsi di Indonesia. Amin.
Satu pelajaran yang kupetik dari obrolanku dengan pak Mukhlis, tak ada kata terlambat dalam belajar karena belajar adalah proses yang baru terhenti setelah mati.